Tue. Jun 25th, 2024

Irvan, lulusan terbaik Teknik Mesin D-3, ITN Malang, pada wisuda ke 69 periode I tahun 2023. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Kunci selain berfungsi untuk mengamankan barang di dalam suatu ruangan, juga berfungsi membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan/hunian. Selain kunci hunian, yang kita miliki juga ada kunci mobil, kunci motor, dan lain sebagainya. Bagaimana kalau salah satu kunci yang kita miliki itu hilang? Sementara tukang pembuat kunci posisinya jauh dari tempat tinggal kita.

Hal inilah yang menginspirasi Irvan, lulusan terbaik Teknik Mesin D-3, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITN Malang ini membuat sendiri mesin duplikat kunci. Pasalnya di Desa Telangkah, Katingan Hilir, Kalimantan Tengah tempatnya berasal tidak terdapat tukang pembuat kunci.

“Di kampung saya kalau ada yang kehilangan kunci jadi susah. Karena untuk membuat kunci kami harus pergi ke Kota Palangkaraya. Jauh, bisa berjam-jam perjalanan. Jadi, kalau kunci hilang biasanya diganti beserta slot-nya,” ujar pemilik IPK 3,56 ini.

Tidak tanggung-tanggung, Irvan sekaligus membuat dua jenis mesin duplikat kunci. Yakni jenis DEFU 339C, dan DEFU 238BS. Mesin menggunakan sumber tenaga dari motor listrik dengan desain konstruksi yang minimalis. Biaya produksi alat juga relatif murah dengan produk sejenis yang dijual di pasaran.

Baca Juga : Kedaireka ITN Malang Kembangkan Pacitan Waterfront City

Mesin DEFU 339C digunakan untuk menduplikat kunci model terbaru dengan mata kunci ulir di tengah. Berberat alat 7,5 kg, dengan panjang 20cm, lebar 15cm, dan tinggi 26 cm. Memiliki 900 rpm, dengan daya listrik 220 volt. Mesin dilengkapi dengan tuas untuk menggerakkan dua mata pahat/bor.

Kunci sering hilang, Irvan mahasiswa ITN Malang membuat sendiri mesin duplikat kunci. (Foto: Istimewa)

Sementara, mesin DEFU 238BS digunakan untuk menduplikat kunci yang memiliki gerigi pinggir pada mata kuncinya. Spesifikasi alat memiliki berat 13 kg, panjang 44 cm, lebar 10cm, dan tinggi 15cm. Berdaya 220 volt, dengan 1.200 rpm.

“DEFU 339C seperti mesin CNC, torsinya memang tidak terlalu kuat. Mesin ini untuk memotong dan mengukur juga bisa. Kadang mesin sejenis hanya untuk mengukur, motongnya memakai manual. Kalau mesin DEFU 238BS untuk mesinnya saya memanfaatkan dinamo bekas mesin jahit,” jelas putra pasangan Warto dan Letni ini.

Mesin jenis DEFU 339C, dan DEFU 238BS memiliki kelebihan masing-masing sesuai dengan jenis kunci yang diduplikat. Menurut Irvan, mesin DEFU 339C lebih mudah dioperasikan, namun pengguna jenis kunci ini lebih sedikit. Pasalnya harga kunci lebih mahal dan bahannya agak susah didapat. Untuk membuat dua mesin ini Irvan menghabiskan dana sekitar 4,5 juta rupiah.

Cara kerja menduplikat kunci yang hilang yaitu pertama-tama kawat dimasukkan ke slot dan dihitung persekat geriginya. Baru kunci duplikat di masukkan ke cetakan dan disesuaikan ulirnya. Mesin dinyalakan, tuas digerakkan perlahan-lahan disesuaikan dengan ukuran yang diukur dengan kawat tadi.

Baca juga : Fourfeo Futsal Teknik Listrik D-3 Ajang Silaturahmi Mahasiswa FTI

“Harus teliti, sabar, dan pelan-pelan. Keahlian di sini memang dibutuhkan. Jadi, mungkin sebelum hilang kunci bisa digandakan dulu. Proses dimulai dari pemilihan jenis bahan kunci, kemudian bahan kunci dicekam pada mesin duplikat beserta kunci induk dengan bentuk yang sama, sehingga presisi dan berfungsi dengan baik. Diharapkan dengan adanya mesin ini dapat membantu untuk menduplikat kunci yang hilang,” jelas Irvan, dimana tugas akhirnya dibimbing oleh Dr. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *