Wakil Rektor III ITN Malang: Orang Indonesia Beli Lima Mobil Meski Tak Punya Parkir

Wakil Rektor III ITN Malang: Orang Indonesia Beli Lima Mobil Meski Tak Punya Parkir

Seminar pengembangan otomotif yang diselenggarakan oleh teknik mesin D3 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang diapresiasi oleh Wakil Rektor III ITN Malang, Dr. Eng. Ir. I Made Wartana, MT. Pasalnya, kegiatan ini akan mendorong semangat para mahasiswa teknik mesin dalam berkarya di bidang otomotif.

Wakil-Rektor-III-ITN-Malang

Menurut Made, memang sudah saatnya ajang kreativitas otomotif digalakkan. Apalagi saat ini Indonesia sudah masuk dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), yang berarti para generasi dari berbagai bidang harus siap berkompetisi termasuk dari bidang otomotif. “Di Indonesia masih banyak motor yang dibuat di Thailand, padahal di sana (Thailand) motor itu tidak populer. Transportasinya sudah rapi. Jadi tidak macet,” tutur pria asal Denpasar tersebut.

Selain itu, minat masyarakat Indonesia tehadap otomotif sangat tinggi. Indonesia adalah satu konsumen otomotif terbesar di Asia. Karena itu perusahaan-perusahaan otomotif dari negara-negara tetangga mengincar ini sebagai pasar untuk menjual produk otomotifnya. Keadaan ini, imbuh Made, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan oleh para generasi di bidang ototomotif dalam negeri. “Di Indonesia motor diganti spionnya saja dibeli oleh masyarakat sebagai barag baru. Bahkan orang Indonesia beli lima mobil meski tidak punya parkir,” lanjut pria yang juga alumni ITN Malang itu.

Karena itu dia sangat berharap melalui acara bertema Peran Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Industri Otomotif  Berbasis Konsep Triple Helix ini mahasiswa Teknik Mesin ITN Malang dapat meningkatkan kreativitasnya. Dan itu pasti bisa, mengingat perkembangan prestasi mahasiswa teknik mesin belakangan ini. Sejauh ini, menurut Made, sudah ada empat prestasi mahasiswa teknik mesin. Di antara: lomba mobil irit masuk final, juara di Singapura mobil irit, lomba robot terbang masuk final, dan yang tebaru adalah juara satu kapal cepat tanpa awak kategori fuel engine. “Dari sekian prestasi ini menunjukkan bahawa mahasiswa ITN Malang pasti bisa,” kata dia. (her)